Wednesday, August 24, 2016

enjoying the bags and leather

Jadi ceritanya saya sedang menikmati hobi baru yang sepertinya telat.. tapi well daripada gak.. :D 

Saya bukan seseorang yang mengikuti tren apalagi merek. Jadi ketika perempuan2 lain sangat update dengan merek macam Michael Kors, Kate Spade, Tory Burch.. saya? entah kemana. hahahaa... and it was a friend yang cerita kalau sekarang seorang temannya getol ber-shopping online untuk barang2 bermerek khususnya tas. 

I was curious. What makes them so crazy with expensive bags? Merek yang disebutkan diatas itu bukan merek premium macam hermes, lv, fendi, etc yaa.. saya gak jago soal merek, bahkan sampai sekarang juga gak tau. 

Kembali ke topik, a friend recommended me a shop yang punya toko fisik, bukan cuma online shop. 
Karena penasaran dan ternyata deket dengan rumah, i went to that shop. Lihat2, pegang2 tas, mempertimbangkan.. skitar 15 menit, then went back home. I didn't buy any bags. 

Setelah itu lamaa.. gak kepikiran sama sekali dengan tas. Then met up with a friend. Dia kasih lihat tas yang dipakainya. tas kulit. lokal. dan dia cerita bagaimana hal perkulitan di Indonesia dan info soal merek luar yang juga kulit n vintage productnya most wanted bgt. Sebutin aja ya brandnya... "Fossil". 

Then, entah kenapa makin penasaran lah saya. Lalu kembali menuju toko branded bags itu. Dan tanpa knowledge yang cukup, saya beli satu tas, diatas 2jt (berasa mahal bener ini tas kek gini doang). 

Setelahnya, lewat penelusuran di facebook, terdamparlah saya dengan group2 jahanam itu.. yang membuat saya semakin gila, dalam waktu dua bulan, koleksi pocil menjadi 3 dengan harga yang u know lah. For me yang gak pernah suka branded... this is something new dan entah kenapa jadi addict. 

Teman saya yang pakai tas kulit lokal kemudian meracuni dengan merek2 kulit lokal. Dan seperti kasus dengan si pocil, saya penasaran dengan merek2 yang katanya kalau buka PO, yang rebutin ratusan, sampai ribuan. sebut merek yaa... abekani, magali, berliano, jogjaleather, aira, de el el.. yang entah kenapa sangat femes di per-online-an. Entah kenapa. 

Then, terdamparlah saya di group2 kulit lokal tersebut, yang... secret group. untuk masuk groupnya harus lewat teman yang sudah join di groupnya. Wuiihh... keren bener ini community group. 
Dan ternyata merek ini sudah menciptakan community engagement se-indonesia. di beberapa provinsi ada personel2 yang merelakan waktu dan energinya untuk menjadi koordinator wilayahnya. Nah nanti pemesanan tas akan dikoordinasikan melalui para korwil ini. dan mereka punya group FB masing2... cara joinnya? kembali lagi... ini secret group, gak akan kedetect deh klo gak ada temennya yg join. Untuk minta join? rekomendasi teman... dan saya mengiba2 minta dimasukkan ke groupnya. dan setelah saya join.. ternyata ada temen eks kantor, temen kuliah, temen sd yang sdh jadi anggotanya. WoW... Katanya untuk dapetin tasnya susahnya bukan main untuk seorang newbie. klo mo dapet yang jual pake harga mark up sih banyak. Tapi kan yah sayang duitnya... Klo gak ya ikut PO atau rebutan... Wah.. bisa penasaran lama ini... T

api saya gak lama2 untuk bisa mencicipi tas yang susah didapetnya ini... teman kuliah menawari langsung :D tapi dijual dengan harga yang wajar kok. Karena penasaran.. saya beli lah. Hehe.. dan taraaa... ketika barangnya datang.. hmm.. mmhh... well... 
warnanya bagus, kulitnya tebel, bagus, ada keriput dikit tpi wajar krn ini cow leather asli. Tapi memang dari segi jahitan, finishing masih kalah dari si pocil...

Tapi sejak si merek lokal yang satu ini, skarang saya merambah ke merek lain.. dan menunggu ada PO di tiap fanpage mereka. (tobat woi tobat..) so far baru nambah 1 dompet. dan... seperti si merek lokal yang pertama... untuk kualitas kulit (menurut saya yg awam), ini bagus. Tapi untuk jahitan/finishing.. masih belum bisa ngalahin si pocil..



Monday, July 25, 2016

Speech Delay - i've passed this challenge

After a while... I decided to write again the development of our child, Leonie. Posts tentang speech delay di komen beberapa kali oleh para bunda yang senasib galaunya dengan saya setahun yang lalu. 

See posts terapi wicara untuk anak speech delay and terapi wicara vs day care.

Agustus 2015, Leonie tepat berusia 4 tahun. Sesuai dengan umurnya, kami memutuskan untuk memasukkan Onie ke TK. Untuk itu, kami kembali menetap di rumah ortu karena sekolah yang kami pilih yang dekat dengan rmh ortu. Onie sekolah bareng dengan sepupu yang seumur dengannya. 

TK yg kami pilih adalah TK kekinian yang bahasa pengantarnya bilingual- bahasa dan English dan katanya sudah meng-adopt kurikulum ala2 Cambridge. 

How was Onie? Well, dengan kesulitannya mengungkapkan kata2.. sangat sulit untuk Onie berinteraksi dengan sekelilingnya. Onie masuk dengan kata2 yang sangat terbatas, tidak bisa mengungkapkan keinginannya, masih suka semaunya, ignorance dengan sekitar, masih pakai diapers, belum bisa minta ke toilet. Dan saya sangat khawatir apakah dia bisa survive di TK-nya. 

My savior selain Tuhan pastinya, adalah her teacher yang.. adalah teman waktu SMP. Saya ceritakan bagaimana kondisi Onie saat ini, dan dia dengan santainya bilang semua pasti berubah. Tenang aja, jangan khawatir. Dan dia mengusulkan agar Onie tetap di terapi - dan ini ternyata syarat juga yang diajukan oleh pihak Sekolah. Mereka menyarankan agar perkembangan Onie distimulus tidak hanya di sekolah tetapi juga di terapi. Ms D ini juga lah yang akhirnya bisa saya "titipi" untuk membantu development behavior dan bahasanya. 

So, kembali lah saya mencari tempat untuk Onie terapi wicara. Pencarian berakhir di Klinik Smart Kid di Kebayoran (Rukan Sentra Arteri Mas) - ada banyak klinik dgn nama Smart Kid. 

Onie terapi dua kali seminggu selama 6 bln (Sept 2015 - Feb 2016) sambil tetap sekolah seperti biasa. Selama 6 bulan kami mengorbankan sabtu pagi demi mengantar Onie terapi dan Opung dan mbaknya mengantar terapi di Selasa siang (setelah plg sekolah). Jangan tanya lagi berapa rupiah yang keluar. (Hehehe... 2 session 2x seminggu) Dan saya puas dengan perkembangan Onie. Pelan-pelan onie mulai mau mendengar, menyimak, dan melihat sekelilingnya. Dia jg mulai mau berbicara, mengungkapkan kemauannya. 

Menginjak semester 2 di TK-nya, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan terapinya, karena perkembangannya semakin membaik. mixed language-nya selama ini semakin bisa dia handle. Tidak menghilangkan preferensinya untuk berbicara dengan English, tapi mengembangkan kemampuannya untuk berbicara dengan bahasa Indonesia. 

Secara akademik? Gak ada masalah. Her teacher malah bilang dia termasuk student yang cepat nangkap pelajaran (dibanding teman2 lainnya). She event once nominated to compete with other class in her kindergarten.

Kemampuan bicara onie membaik, tepat di usia 4,5thn. :) Sudah tidak pakai diapers, dipanggil menoleh, diberi instruksi bisa menanggapi, belajarnya rajin, bisa bercerita (walaupun masih patah2 dan mixed language), tidak trantum dimana2, hanya masih ada beberapa behavior yang saya yakin pelan-pelan akan bisa berubah. 

Lesson learned? Dibutuhkan kesabaran seluas samudra dalam menghadapi anak-anak yang berbeda. Don't give up kuncinya dan jalani dengan tenang dan tetap kuat. 

Hal lain, adiknya Evan yang kini 1,5thn... sudah cerewet dengan sangat banyak kata-kata yang dia terus ucapkan. dimulai dari papa, mama, mbak, ompu, susu, kuda, mobil, bobo, sampai sekarang bisa menolak (makanan) dan memilih (gak mau dipakaikan kemeja, maunya kaos oblong). Bisa marah kalau ada ketidak adilan (misal: kakak-nya dimarahi ompung atau sebaliknya). 

As a parent with two children, yang satunya masih toddler pula... i still have so many things to learn. Selalu mengingatkan ke diri sendiri kalau this is still not end. Akan ada struggle jenis lainnya di masa depan nanti. Semoga pelajaran hidup menjalani masa-masa Onie speech delay bisa jadi bekal menghadapi tantangan lainnya mendidik anak-anak ini... Tuhan mampukan saya.. Amin.. 




Thursday, March 31, 2016

flash back


Apa yang mau di look back? my will to write. untuk menulis.

Sekarang ini makin jarang menulis. Why? Sama seperti alasan klise, gak punya waktu.
Kerja, berangkat pagi pulang malam. Belum lagi sebelum dan sepulang kerja masih harus bercengkrama, main-main dengan para krucils...

Dan kantor mengadakan internal workshop writing. It was a short workshop but it slap me right to my face. You haven't created anything the past fourteen years, nes.

Yes. I was productive before. Before i was busy with tons of activities, works, matters, busy minds, busy life, busy nez...

In the past, when I was in high school, I was selected among hundreds of students to attend a writing workshop which one of the speaker was Seno Gumira Ajidarma. Lupa waktu itu kelas berapa.. kalau gak salah kelas 2 SMA deh... dan saya entah kenapa dipilih. Tapi saya ingat, seorang english teacher-forgot his name, mengambil karya tulis saya - an english fiction, dan memuatnya di newsletter sekolah lain-tempat dia mengajar selain di SMA saya. I don't recall I was proud at that time. Karena my passion to write is just to satisfy myself. So, mau di acknowledge atau gak.. ga masalah.
I remember also, a friend of mine always asked me to show her any piece of paper i Typed (i typed in a classic typewriter).
Merantau ke kota lain, sibuk dengan kegiatan sebagai mahasiswa, sibuk mengejar IPK, tugas-tugas dan sibuk menghibur diri karena jauh dari keluarga. Masih sempat menulis tapi sudah semakin jarang dan entah kenapa ide itu tidak pernah ada. hahaha... menulis hanya untuk tugas kuliah, skripsi.
Lulus, sibuk cari kerja, kerja, dan lanjut kuliah (yg disambi kerja). Makin gak jelas, makin kacau sampai sekarang. udah gak bisa lagi nulis.
Setelah menikah, punya anak pertama, lanjut anak kedua... bablas sama sekali gak nulis kecuali thesis dan pekerjaan kantor (menulis artikel-part of job).

Lupa dengan EYD yg baik dan benar, lupa penggunaan Bahasa yang baik dan benar.. dan lebih parahnya, menulis dengan bahasa campur aduk tapi gak jelas seperti blog saya inih. Hahaha.. maap.

Masih ada keinginan untuk memulai membuat tulisan, yang lagi-lagi hanya untuk diri sendiri. Hanya butuh keberanian untuk mengalihkan kesibukan hari-hari ke fokus hanya untuk menulis. Let's see if i can.






Tuesday, April 14, 2015

My will vs God's will - how to wait patiently... :)


My maternity leave will end next 3 weeks. Yiihhaa!! But deep inside i want it ended faster. three weeks is another long time. I've spent these months counting on the days I'll be back working. 

Ibu durhaka? Iyesh. Hahaha... Well, I love my newborn baby, I love my kids. Tapi berbeda dengan cuti melahirkan anak pertama, kali ini my passion to back to work is heavier. Ntah kenapa. Kalau dulu rasanya berat sekali untuk kembali bekerja. Kali ini? I really want to go back working. Serius!

But I won't be crazy by sacrificing 3 minggu terakhir ini dan hurry back working. No... walaupun udah berat banget ini di rumah, bawaan pingin keluar terus... I learned to be patient. 

To be honest, ini ujian kesabaran dari Tuhan, ujian lainnya dari ujian2 lainnya. Mungkin ibu2 lain akan anggap saya gila dengan menganggap cuti melahirkan itu ujian kesabaran. But yes, for me who loves being active... this is a torture. (maap yah anak2ku...) 

What do i learn this two months? 
I learn that not all things will go according my plan. I must accept there are things that are greater than my plan. It's God's plan.

I'm a person who surrender with God's words. How do i know God's words? Did He speak to me directly? No. I learned His words through Acceptance.
If things not going as my will, I did disappointed at first, but I quickly managed my feeling and accept the circumstances. It's God who did not agree with me. And i should obey. 
I've been failed so many times, you know... rejected by big companies which i long to work for, husband lost his job and got unemployed for three months, my oldest who diagnosed with Speech Delayed, I don't have sufficient breast milk (this is the most suffering one), and many more failures in my life. 

But there are more blessings than failures. I have a wonderful family. A good husband who has been with me since 2004 and two wonderful children. A Family is God's greatest plan in my life. Nothing greater than having a family because you know, it's beyond our control. 
You can't managed to have a spouse-the right one moreover having a child. Can you make a child by your own? No. Many couples can't have children, but God give me two easily. That's why I said husband and children are the greatest gift from God.

I have a steady job. Therefore i can afford my mom and family household. I have a great team at work. I'm thanking God for this, even though I feel now i'm at comfort zone. But I try to be patient this time. I want to have career changes, but again... it's my will, not God's. Why do is say it's God's will for me to stay at my current job? because during these two months, there were companies asked for my cv. And yet no feedback from them. Ah, 1 company called for interview but I didn't feel good with them. 
So, i realized, God wants me to stay and work my best for my current employer. Okay God... I will do. 

So many things i want during these months. I want to go travel abroad before i go back working-but i still feed breast milk. I want to have another career-but i couldn't. I want to invest in a land-but my husband still unsure with it. I want to buy things-clothes, oven microwave, a fashion watch, repair audio in my car, bag, etc - but i think of saving for my child than spending. I want to enroll a slimming program- i still breastfeed. 

See, so many things can't go according my will. I have my own money to buy things i want and enjoy the travel or join the program. But I just could not. Thinking of my current circumstances, i have to wait. 

I've been through so many things during my 33 years in the world. I learned and I know there will be good things in the future if I just follow God's words. He answers prayer. I truly believe this, I have faith in Him. I just have to wait patiently. 







Wednesday, March 25, 2015

Fanaticsm



it was in my young age when i was being too fanatic with some thing/person. now i don't have any thing or person to over-idolized. I'm being ordinary with anything. I took everything lightly and never think too hard with some thing. I rarely bother things which against my stand. 

but these days i've seen more and more friends become overly fanatic over some thing/person/religion. not to mention only moslem but also christian. are they wrong? they're not. if they being fanatic just for themselves and not bothering anyone. it's okay. but if their fanaticism led to hatred, looking for hard argument, bothering people's lives, shaking other comforts, forcing others to follow theirs... well, that's bad. 

i was too fanatic in religion at those old days. i see people who didn't walk in the same way as a sinner. but as time goes by and through so many journey, i realized, fanaticism is a private zone. you should not mix it with outside world. If you chose to be fanatic, chose it for yourself. don't force others to do the same and don't judge other as they're making big mistake. 

it's your choice, it's their choice. u're not in the place to justify anything.