about breastfeeding - Sufor atau Asix?


This is another controversy that i would reveal through this blog. I know that certain people, especially those who joined mother's milk club, para anggota forum garis keras ASI, will hate my thought and probably would bullying me for sure. 

This is my second baby. The first one born in 2011. Seperti ibu-ibu baru lainnya, saya termasuk yang sangat idealis dan sudah mempersiapkan semuanya. Dari perlengkapan bayi, baju2, perlengkapan mandi, gear, bedding, dsb smuanya yang terbaik lah walaupun bukan yang termahal. Termasuk juga sudah mempersiapkan diri untuk menyusui secara ekslusif. 

Si kakak lahir, dengan pedenya saya nyusuin dia walopun asi belum keluar. not even rembesan di PD. Tapi cuek lah... kita dengarkan para obgyn, dokter anak dan para bidan and suster yang bilang susuin aja terus, bayi bisa bertahan tanpa intake selama 2-3 hari karena masih ada sisa dari selama dia di rahim ibunya. 

Oh ok. So dengan pedenya nyusuin. Walopuunn... masuk ke hari ke-3 si kakak mulai rewel dan nangis gak berhenti. Saya dijaga sama suami and tante-nya.. Malam2 karena gak tega, si tante dan suami beli susu formula dan diberikan ke si kakak. Me? Kesalnya bukan main... my milk cukup kok, i said!. Tapi suami, gak mau ambil resiko.. he kept doing it until i  discharged from hospital. 


Di rumah? Saya pede memberhentikan formula dan kembali dengan nyusuin si kakak, yang kemudian nyusu berjam-jam gak dilepas. Well again, seperti yang saya baca di forum2 garis keras dan opini2 yang ada di internet. I thought that was a correct thing to do. Biarkan saja, karena nanti tarikan dari si baby akan menstimulus asi untuk keluar. OK, proses mencucu pun terus dilakukan... tidak ada pumping, karena gak ngerti, gak ngeh waktu itu.


Then... seminggu setelah di rumah.. si kakak panas tinggi. Bingung, panik. Kita bawa ke UGD... sampai di UGD... langsung inap karena katanya sudah kuning sekali. what? apa itu kuning? mereka ijin utk cek bilirubin. He? Apa lagi itu bilirubin? Emang dasar emak2 gak prepare the worse yah... disitulah baru browsing... oh tnyata kuning itu fisiologis atau patologis. kuning setiap bayi wajar. dan kuning akan keluar lewat cairan dari intake yang masuk. Tapi di kasus si kakak... krn gak ada intake, kuningnya gak keluar. Hah? gak ada intake? kok bisa? Well... usut punya usut.. disuruhlah saya utk pumping di rs. Pumping lah saya dengan hospital pumping yang katanya paling mahal itu... well... not even 5 ml keluar. 


DUUAARR!! dah ky petir nyambar. Jadi selama di rumah ini si kakak gak minum apa2 krn si emaknya sotoy, begok, oon, goblok, dsb... sampe ggak tau klo gak ada ASInya.. 

si kakak nginap akhirnya. di blue light. disitu lah penyesalan dan derai2 air mata menghiasi sudut ruang tunggu rumah sakit selama tiga hari. si abang pergi beli pompa asi. dari yang manual sampe yg elektrik krn saya panik dan pingin segera menghasilkan asi yang banyak untuk si kakak selama di rs. Tapi apa daya... paling banter maksimal 40 ml. Tapi itu tetap dibawa ke rs dan diberikan ke si kakak... sambil si kakak tetap dibantu dengan susu formula. Kami pilih jajaran produk ENFA, si Enfamil A+, karena anjuran dari tante-nya si abang yang seorang Bidan di balikpapan. 

Si kakak stay 3 hari di RS, selama tiga hari daku dengan ortu (thanks God mereka ada waktu itu) menunggui si kakak sampai sore... 

Sampai di rumah... aksi perah memerah terus berjalan dengan hasil asi yang masih segitu2 saja. brosing2 forum garis keras.. smua masukan tentang suplemen dilakukan. beli segala macam suplemen, pompa listrik, teh, massage, klinik laktasi (belajar latch on yang sebenanrya gak masalah sama si kakak) sampe ke akupuntur TCM. nominal gak dihitung lagi ntah berapa banyak keluar untuk semuanya. Hasilnya? Keluar sih setelah sebulan... 70ml-100 ml selama setiap 3-4 jam. Puji Tuhan.. tapi krn si kakak sudah semakin besar... tetap kurang. Akhirnya ASI tetap disambung dengan sufor. 

Feeling guilty at that time, rasa minder, malu krn gak bisa kasih asi eksklusif, selalu menghantui saya.. walaupun si kakak yang bukan asi s1, s2, es teler.. jarang sekali sakit. dari dia bayi seingat saya hanya sekali dia inap ketika usia 6 bulan karena ispa. tapi sejak itu gak pernah sakit.. paling batuk pilek biasa..

Sampai ketika hamil anak ke-dua. ketakutan gak bisa asi kembali menghantui... tapi kali ini karena sudah lebih berpengalaman... saya sudah prepare. ke rs bawa breast pump, bawa botol susu dan sufornya. Kita gak mau ada kejadian anak nginep lagi di rs. 

Dan benar lho... asi gak keluar sampe hari ke-3. Di hari ke-3, sekeluarga sepakat kasih tambahan sufor ke si  dedek... sempat kuning, semalaman di blue light. Tapi gak perlu tambahhan inap krn bilirubin tinggi lagi.. 

Sampai di rumah... sufor berjalan, aksi perah memerah pun jalan. Sampai di usia 3 minggu ini, si dedek tetap asi sambung... seberapa pun asi hasil perah  yang aku dapat, disambung dengan sufor karena si dedek tetap rewel... nyusuin langsung hanya di malam hari.. itu pun karena saya sudah terlalu capek untuk terjaga dan pumping.. puji Tuhan setengah dari malam hari si dedek gak rewel minta tambahan. menjelang subuh saja dia mulai gak suka sama nenen mama-nya dan mulai cengeng minta tambahan. 

Seperti si kakaknya, si dedek juga pintar nyusu. gak ada masalah tongue tie, bingung puting, latch on gak benar, dsb... walaupun tambahan sufor pakai botol, dia masih mau nyusuin langsung. So, bukan salah di baby...ini nasib mama-nya aja yang PD-nya gede di tampilan aja. :D 

Saya pumping setiap 3-4 jam sekali. dimulai dari jam 8 pagi (krn terkhir si dedek nenen tuh biasanya subuh) setelah si dedek mandi. Jam 8, 11, 2, 5, 8 malam. Hasilnya di minggu ke 3 ini? skitar 60 - 70 ml. Di syukuri saja.. dan berharap bisa semakin banyak dan bisa stock untuk si dedek ketika mamanya kerja. Tapiii.. klo pun tidak bisa, saya gak akan ngotot dan jadi gila karenanya. 

Rasa minder, malu, karena gak bisa asi eksklusif... kadang masih ada ketika salah seorang teman posting isi kulkasnya yang penuh dengan botol asi. Tapi kali ini saya berusaha untuk tepis semua perasaan aneh itu. Be positive, confident and most important.. being rational. 

A friend of mine, yang seorang dokter told me. "kelenjar asi sedikit itu ada, kok. Mami gw seorang bidan jg asinya sedikit dan gw serta adek2 gw semuanya asi sambung sufor, tpi lo liat, kita semua sehat dan dua jadi dokter. Hormon prolaktin lo baik2 aja tpi mungkin kelenjar asi lo sdikit. Resikonya ya harus sering pumping". She said. Dia juga gak menepis para pengikut aliran garis keras ASI krn sebenarnya sasaran mereka bukan emak2 kaya saya yang pingin bisa ASI tpi gak bisa. Sasaran mereka emak2 yg gak mau nyusuin dengan alasan payudaranya nanti jelek. 

Teman saya ini juga bilang spy saya jangan tertekan dengan bacaan2 di internet, jangan ikutin tu forum2. Kalau ada yang masih sinis, bilang ke mereka, what if kalau mereka ada di posisi saya. masih bisa sombong dengan botol asi sekulkas apa gak? Syukur pada Tuhan kalau mereka dikaruniai ASI berlimpah, tapi seharusnya gak boleh menghakimi emak2 yang seperti saya ini. 

Well, the last statement from her benar2 menyejukkan hati saya. Thanks to ifir, seorang teman dari SD yang puji Tuhan bisa jadi dokter dan bisa nasehatin temannya yang melow ini. :) 


Si dedek sekarang asi sambung sufor. Dengan dia semakin besar, asi 60-70ml sdh tidak cukup buat dia dan jarak minumnya semakin pendek (krn lagi growth spurt). Dan saya, singkirkan emosi saya dan melihat kebutuhan dia, kemudian memberikan sufor, baik dengan atau tanpa tambahan asi. 

As a mother, i'm being rational. I won't let my baby jadi sakit karena egoisme dan irrational mamanya karena social pressure. Please don't judge a mom because her milk. Every mom would give the best for her children.  Tokh susu formula juga bukan racun kan? 



Comments

Popular posts from this blog

Terapi Wicara untuk Anak Speech Delay..., perlu kah?

Doa berkat dari tulang (pasu-pasu ni tulang) - a batak tradition

Terapi Wicara vs Day Care / Preschool